Nobar KCB dan obrolan psikologi positif
Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga keinginan nobar bareng nonton KCB dengan temen-temen Alumni SMANSA. Awalnya sih, iseng aja cari temen nonton KCB. Gak enak lah nonton cuman sendirian. Untunglah dulu pas di Blok M tiketnya habis, jadi ada kesempatan untuk hari ini. Makasih buat erna, ipik, santi, joko, mas bonus dan latipe yang sudah nemenin aku hari ini. He he… kalian kan sudah sekian lama hidup di Jakarta, jadi tak apalah nemenin temen kalian yang baru 2 minggu-an hidup di tanah orang ini.

film kcb
Fyuh… akhirnya, tahu juga beberapa maksud komen temen soal KCB. Ada yang bilang ginilah, gitulah. Tapi rasanya gak pas, gak lega nek gak membuktikan sendiri. Salah satu yang sedikit membuat aku merasa film ini ternoda adalah soal efek katrok, pas si azzam ketemu sama si furqon. Ketok banget di gawe-gawe. Latar yang harusnya langit biru kota Mesir itu tampak hanya buatan. Aneh memang, film sekelas “Asli Mesir” kok dikotori dengan efek-efek gak cantik seperti itu. Ya, semoga aja itu tidak mengurangi kemanfaatan film ini.
Apa yang dikatakan atik *somse* emang benar. Beberapa nilai Islam aku rasa, memang benar-benar dapat disampaikan dengan apik di film ini. Terutama soal khitbah mengkhitbah. Dan jua soal hubungan antara lelaki dan perempuan. Masih inget, gimana si azzam akhirnya menjelaskan dengan manis kepada mbak Eliana. He he… sempet pada ketawa lho orang-orang di bioskop. Pas si eliana nawarin hadiah spesial, french kiss. Kek kek kek. “Itu musibah mbak”, klek bunyi telpon yang dengan tiba-tiba ditutup sama mas azzam. Penjelasannya aku rasa sopan, apalagi mengingat mbak eliana dalam film itu dicitrakan sebagai orang yang pernah belajar di negara dengan kebebasan berpikir. Ya, soal kesucian. Soal halalnya sebuah hubungan.
Banyak hal yang juga membuat aku berkaca. Soal beberapa hal di masa lampau dan yang akan datang. Hmmm… Alhamdulillah, aku tak kecewa nonton film ini. *lha ra moco novele*. Mulai saat ini aku bakal lebih memanfaatkan sisa waktuku untuk hal yang lebih positif lagi. Dan beberapa rencana positif yang sudah aku susun mind mapnya kemaren harus segera tak laksanakan. Lebih cepat lebih baik!
Selesai nonton, aku dan rombongan. Langsung sholat dhuhur di lantai 3. Hi hi, rada mempet. Pasalnya kita ambil jam pertama. Jam 11.45, film selesai jam 14.00 kalau tak salah lihat tadi. Selesai makan. Aku ma rombongan makan dulu di Hoka-hoka bento. Dan di sinilah akhirnya obrolan psikologi positif terjadi. Erna yang notabene anak psikologi UI akhirnya harus rela menjelaskan beberapa pertanyaan yang selama ini ada dibenakku. Terutama soal ini. Soal apakah benar ketika kita lebih sering mengatakan sesuatu yang negatif (dalam arti pesimistisis) maka reaksi yang dihasilkan juga lebih ke arah negatif. Tetapi, jika kita lebih sering mengatakan sesuatu yang positif, maka reaksinya pun akan lebih ke arah positif.

abis nobar kcb
Semua itu memang ke arah mind set seseorang memang. Jika kita mau sukses, ya harus positif. Karena ketika kita berpikir positif, maka kita cenderung bersyukur terhadap apa yang kita miliki dan apa yang kita alami. Hal ini memperngaruhi cara kita dalam menggapai tujuan. Ya semacam apakah kita akan berhenti ketika gagal, atau terus berjuang dan mengambil hikmah dari kegagalan yang kita alami. Maka itu, tagline di HP yang awalnya “Jangan munafig!” sekarang sudah aku ubah menjadi “Think+ Act+“.
Obrolan dilanjutkan ke soal sugesti, soal alam bawah sadar yang ada dalam diri manusia. Bahwa motivasi seseorang dalam melakukan sesuatu, salah satunya dipengaruhi oleh bagaimana dia berpikir. Ketika kita berpikir positif, maka secara tidak langsung kita telah menanamkan sesuatu yang positif kepada diri kita. Hal ini akan membuat kita lebih bersemangat dalam menggapai tujuan. Sedang jika kita berpikir negatif, secara tak sadar kita telah mengatakan ke diri kita bahwa kita “tidak bisa”, “tidak sanggup” dan sebagainya. Payah! Ternyata, pikiran-pikiran seperti itulah yang melemahkan kita. Maka itu, jangan berlama-lama dengan pikiran negatif. Yang positif-positif aja
Thank all, banyak manfaat yang aku petik hari ini.
Sekedar hangout boleh, tapi bermanfaat harus _^
. Sudah banyak tempat yang aku kunjungi, rata-rata tempat hiburan sih. Mulai dari hari Blok M, pas mo lihat KCB dulu itu. Kemudian ke JCC (Jakarta Convension Center) pas pameran ICS (Indonesian Communication Show) dan FKI (Festival Komputer Indonesia) 2009 kemaren, trus Pasar baru, Sarinah, eX, BHI, XXI Sarinah, Pasar Festival sampe yang terakhir ini Plaza Kalibata.
Selama ini masih mengandalkan banget sama yang namanya busway *haruse transjakarta nyebutnya*, sama M20. Alhamdulillah semenjak suka JJS, akhirnya tahu juga yang lain. Gmn rasanya kembali naek bus umum yang sumpek, dan suka ngetem. Oh ya, di sini ada 2 macem bus kayak gtu. Satu Metromini, biasanya warna merah dan yang satu namanya kopaja, yang warnanya hijau. Selain itu juga ada angkot. *dadi kelingan jamane pelm si Doel Anak Sekolahan 
. Dan benar saja. Ada logo 21 one disitu. Berarti emang benar XXI dan 21 itu ada hubungan. Mungkin hubungan persaudaraan kali ya. Soale namanya sama. Setelah mendekati kasir, aku lihat cuman ada 2 studio di sana.
kayaknya gak jodo ki. Gak mantep dengan yang aku liat, aku pun tanya sama bapak-bapak di sampingku. “Pak, yang diputer cuman 2 itu ya…?”, tanyaku pelan. Sang bapak yang sedang sibuk dengan hp pun menjawab, “Iya mas. Di sini cuman ada 2 studio, yang diputer juga 2 itu.”
gagal maning, gagal maning.
. Coba scanning sinyal. Ada banyak. Ada CBNHostpot, ada FAZIO, ada INDOSATNET dll. Semprul, gak ada satupun yang sukses konaksi ke internet. Gagal kabeh. Ameh takon rodo males. Akhirnya jurus terakhir pun aku keluarkan. SMARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRTT!
